Revolusi Rusia dan Surat Kabar Bunga Api

Posted: May 20, 2011 in Uncategorized
Tags: , ,

Dari Bunga Api sampai Gorbachev Partai Komunis Uni Soviet jauh bermula pada gagasan seorang bangsawan yang menyesali keningratannya, Plekhanov. Memang, yang kemudian diterapkan oleh Lenin pada Bolsyewiknya, yang kemudian berubah jadi PKUS, berbeda dari ide-ide Plekhanov.

JALAN panjang mesti di-tempuh oleh Marxisme se-belum menjadi Partai Ko-munis Uni Soviet. Orang pertama yang mencoba me-nafsirkan Marxisme adalah George Plekhanov, seorang bangsawan yang menyesali derajatnya. Pada 1870 ia bergabung dengan gerakan rakyat. Dialah kemudian yang membentuk organisasi per-tama berpaham Marxis, Pembebasan Buruh. Bapak Marxisme Rusia itu pada 1900 bersama Lenin mendirikan surat kabar bawah tanah bernama Iskra (Bunga Api). Tujuannya untuk menyalakan kesadaran radikal rakyat Rusia. Dua tahun sebelum-nya, Partai Buruh Demokratik Sosial Ru-sia berdiri, antara lain karena ide-ide Plekhanov.

Tiga tahun setelah Plekhanov dan Lenin bekerja sama di Iskra, Partai itu pecah. Lenin dengan Bolsyewik-nya (arti- nya mayoritas, meski waktu itu pengkikut-nya cuma sekitar dua lusin). Plekhanov berpihak pada kubu Mensyewik. Dalam perjalanan sejarah kemudian, Bolsyewik di atas angin, dan Plekhanov kembali harus menjalani pengasingan. Perang Dunia I berakibat sangat runyam bagi Rusia. Perekonomian Rusia kocar-kacir. Harga barang-barang kebutuhan melesat jauh lebih cepat ketimbang kenaikan upah, fasili-tas angkutan umum tak sanggup menam-pung arus penumpang, dan makanan kerap menghilang dari pasar. Demonstrasi pun marak di seluruh negeri. Januari 1917, kaum buruh dan tentara sepakat di Kota Petrogard (dulu St. Peter-sburg) membentuk lembaga perwakilan bersama — istilah Rusianya, soviet.


Semen-tara itu, Duma (parlemen) membentuk pemerintah sementara. Kedua lembaga ini, soviet dan Duma, sepakat mengangkat Pangeran G. Ye Lvov sebagai kepala pe- merintah sementara. Sedangkan Nicholas II, meski tak dipecat sebagai tsar, dikenai tahanan rumah. Pada 15 Maret 1917, Tsar menyerahkan kekuasaan eksekutif kepada Lvov. Para buruh dan petani pun makin bergairah mendirikan soviet-soviet baru. Di bawah kabinet Lvov, krisis ekonomi Rusia ternyata tak kunjung surut. Kala Menteri Luar Negeri Pavel Milyukov me-nyatakan bahwa Rusia akan terus terlibat dalam perang demonstrasi besar-besaran kontan meledak di seantero kota Rusia. Rakyat menuntut agar Rusia segera mena-rik diri dari kancah perang yang telah merenggut banyak jiwa dan kesejahteraan.

Demikian hebatnya demonstrasi itu, se-hingga Lvov terpaksa melakukan per-ombakan kabinet. Milyukov dan Menteri Peperangan Aleksandr Guchkov disingkir-kan. Tapi, kabinet baru Lvov ternyata tetap tak mampu memperbaiki situasi. Ketika itulah Lenin tak mau kehilangan momentum. Dari persembunyiannya di Swiss, dia melancarkan agitasi politik. Pemerintah sementara dia tuding sebagai rezim borjuis dan imperialis. Leon Trot-sky, Marxis lain yang bermukim di New York, ikut menggemakan serangan itu ke segala penjuru Rusia.

Lenin kembali ke Petrograd pada 16 April 1917. Setibanya di Stasiun Finlandia, dia langsung mengimbau “semua kekuatan Soviet” — peristiwa ini disebut sebagai Thesis April untuk menggulingkan peme-rintah. Dia segera mengerahkan semua warga Bolsyewiknya. Sempalan Partai Bu-ruh Demokratik Sosial Rusia inilah yang kemudian dikenal sebagai Partai Komunis Uni Soviet. Ujian pertama bagi Bolsyewik terjadi pada Juli 1917 dalam menghadapi kekuat-an pemerintah sementara. Saat itu terjadi bentrokan antara para demonstran dan pasukan keamanan. Para demonstran di-dukung oleh para awak kapal dari pangkal-an angkatan laut Kronstadt. Bentrokan yang lebih mirip perang itu akhirnya dimenangkan oleh pemerintah. Peristiwa itu membuat Lenin harus ka-bur ke Finlandia, dan Trotsky, yang sengaja datang dari New York untuk ikut berdemonstrasi, masuk penjara. Di tempat persembunyiannya yang kedua inilah Le-nin menulis Negara dan Revolusi, sebuah buku yang kemudian menjadi rujukan utama kaum komunis sejagat.

Akibat lain dari bentrokan berdarah itu adalah mundurnya Lvov sebagai perdana menteri. Dia digantikan oleh Aleksandr Kerensky, yang beraliran kiri moderat. Kaum kanan, yang tak setuju pada peng-angkatan Kerensky, lalu beraksi. Mereka bersekongkol dengan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Lavbr Kornilov. Maka, pada bulan Juli, dengan alasan untuk mengatasi situasi, Kornilov memerintah-kan penyerbuan terhadap Petrograd. Kerensky melihat pengerahan pasukan itu sebagai plot untuk menggulingkan dirinya. Tapi dia berhasil membujuk para penyerbu itu agar berpihak pada dirinya. Rencana kudeta itu pun berantakan. Sementara itu, kerusuhan sudah menju-rus ke anarki. Para petani, yang kelaparan, sudah mulai nekat menduduki ladang–ladang pertanian para tuan tanah. Sedang-kan para buruh pabrik mendirikan serikat–serikat buruh ilegal.
Situasi ini disemarak-kan oleh slogan kaum Bolsyewik: “Perda-maian, Tanah, dan Roti.” Maka, jelas sudah bahwa hanya kaum sosialis yang siap memanfaatkan gejolak yang nyaris mencapai titik didih itu. Apala- gi kaum Bolsyewik juga berhasil menyerobot posisi-posisi kunci di soviet-soviet Petrograd dan Moskow. Bahkan Trotsky berhasil terpilih sebagai ketua soviet selu-ruh Petrograd. Di tengah situasi seperti itu, dari per-sembunyiannya di Finlandia, Lenin memerintahkan para tokoh Bolsyewik agar me- lancarkan revolusi.

Tapi perintah ini tak dilaksanakan, kerena mereka lebih suka memakai jalur demokratis. Yakni dengan mengikuti Konperensi Demokrasi yang diadakan oleh pemerintah. Konperensi itu merekomendasikan pem-bentukan Dewan Republik alias parlemen sementara. Pada awal Oktober 1917, kala dewan ini bersidang, kaum Bolsyewik me-ninggalkan ruangan. Sidang itu lalu ditun-da sampai bulan berikutnya. Pada 7 Oktober, secara diam-diam Le-nin tiba di Petrograd. Lalu, 10 Oktober, sidang pendahuluan sentral komite partai. Partai Bolsyewik memutuskan untuk me-masukkan rencana kerusuhan bersenjata, yang diusulkan oleh Lenin, ke dalam acara pokok dalam sidang umum mendatang. Sementara itu, rencana pemerintah untuk memindahkan ibu kota dari Petrograd ke Moskow membuat masyarakat makin per-caya, Kerensky akan menyerahkan Petrog-rad kepada Jerman.

Memanfaatkan situasi panik yang terja-di, Lenin membujuk Komite Militer Revolusioner supaya mempersiapkan kerusuhan bersenjata. Hari pelaksanakan ditentukan bersamaan dengan pe-nyelenggaraan Kongres Soviet pada 25 Oktober. Usaha Lenin ini mula-nya tak terlalu digubris oleh pemim-pin Bolsyewik lain, terutama Kame-nev dan Zinoviev. Mereka lebih suka mengambil sikap defensif untuk menghadapi kemungkinan se-rangan fisik dari pemerintah. Suhu politik memuncak lagi kala ada pemimpin Bolsyewik yang mengaku telah menguasai garnisun militer Petrograd. Maka, pada 26 Oktober, Kerensky mengirim pasu-kan untuk memberangus semua kor-an yang diterbitkan oleh kaum Bol-syewik. Tindakan ini meng-undang a- marah ten-tara simpa-tisan Bolsyewik dan Pengawal Merah — milisi Bolsye-wik. Mereka lang-sung bergerak un-tuk menggilas pasu-kan pro-pemerintah. Pertempuran pun langsung meledak. Dan di luar dugaan, ternyata pasukan pemerintah sudah kelewat loyo gara-gara digerogoti oleh Perang Dunia I dan propa-ganda kaum Bolsyewik. Maka, menjelang malam hari, hampir seluruh Petrograd dikuasai oleh kaum Bolsyewik. Menyusul kemudian dikuasainya Istana Musim Di-ngin, pertahanan terakhir pihak lawan.

Tapi Kerensky lolos dari tentara Bolsye-wik. Keesokan harinya, kaum Bolsyewik mengumumkan pembubaran pemerintah sementara. Sistem pemerintahan baru kemudian di-bentuk, dengan soviet sebagai organ yang berkuasa. Kekuasaan legislatif diserahkan kepada Komite Eksekutif Sentral Soviet, sedangkan legislatif kepada Dewan Komi-saris Rakyat. Lenin menjadi calon tunggal ketua dewan itu, Trotsky sebagai komisaris luar negeri, dan Stalin sebagai komisaris masalah suku-suku bangsa. Soviet-soviet di luar Petrograd lalu ma-kin bergairah melancarkan kerusuhan ber-senjata. Maka, banjir darah segera mence-kam seluruh Rusia. Di Moskow saja, terjadi perang selama seminggu, sebelum pasukan pemerintah menyerah. Kaum revolusioner itu juga mendapat perlawanan sengit dari kaum nasionalis Ukraina dan Finlandia, yang menghendaki negara sen-diri.
Tapi hanya Finlandia yang kemudian berhasil memerdekakan diri. Perlawanan lain yang tak kalah sengit dilancarkan oleh kaum antikomunis yang menamakan diri sebagai Rusia Putih, di-pimpin para perwira zaman Tsar. Pada Mei 1918, Rusia Putih menyerang Yekaterinburg, untuk membebaskan Tsar Nicholas II dari sekapan pemerintah se-mentara. Untuk menggagalkan upaya itu, Tsar dan keluarganya dibantai oleh para pejaganya. Mayat mereka dibakar dan dibuang ke sebuah lubang pertam-bangan. Pada 1919, Rusia Putih melakukan se-rangan besar-besaran ke Moskow, yang dilakukan dari tiga arah — Siberia, Don, dan Balkan.

Serangan itu gagal total lantar-an tak mendapat simpati luas dari ma-syarakat. Kekuatan Rusia Putih pun mero-sot. Maka, pada 1920, gerakan itu habis setelah para bosnya dibunuh oleh kaum Bolsyewik. Rakyat bersimpati kepada Bolsyewik lantaran dekrit-dekrit yang dikeluarkan sangat menguntungkan orang kecil. Dekrit-dekrit itu antara lain menghapus hak-hak pribadi pemilikan tanah, meng-esahkan kekuasaan buruh atas pabrik, menasionalisasikan perbankan, mengha- puskan sistem peradilan lama membubar-kan polisi, membedakan gereja dari nega-ra, menyamakan hak antara kaum wanita dan pria. Dalam perkembangan kemudian, sesuai dengan ajaran Lenin, katanya, kaum Bolsyewik menjadi penguasa tunggal. Tak cuma itu. Kaum Bolsyewik pun mengesah-kan penangkapan dan pelaksanaan hu-kuman mati tanpa lewat pengadilan.

Ma-ka, sekitar 200 ribu orang kehilangan nyawa. Dan sekitar 2 juta kaum kelas menengah ke atas kabur meninggalkan Rusia. Desember 1922, Lenin mengubah nama Rusia menjadi Uni Sosialis Republik So-viet. Saat itu dia sudah diserang penyakit pendarahan otak. Dua tahun kemudian, dia meninggal. Yang kemudian berkuasa adalah Stalin, setelah ia berhasil menyingkirkan Trotsky, tangan kanan Lenin.

Setelah kongres par-tai ke-15, Desember 1927, Stalin memutus-kan dirinya sebagai sekretaris jenderal partai. Stalin lalu memerintah dengan tangan besi (lihat Selingan). Setelah semua saing-an disirigkirkan, dia berhasil membuat kedudukan sekretaris jenderal partai, yang pada mulanya hanya jabatan administratif, menjadi eksekutif tertinggi negara. Tak cuma itu, Stalin juga mempraktekkan sis-tem Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) dan kolektif. Dia berambisi menjadikan Soviet sebagai negara industri termaju dan termakmur di dunia, tanpa dukungan kaum kapitalis. Masyarakat so-sialis sejati. Stalin meninggal pada 5 Maret 1953. Dia digantikan oleh Nikita Khrushchev, yang kemudian melakukan destalinisasi. Lang-kah pertama yang dilakukan adalah tak mau menamakan jabatannya sebagai se-kretaris jenderal. Tapi sekretaris pertama. Pengawasan terhadap oposisi dan kritik–kritik diperlonggar. Lalu, hubungan de-ngan Barat diperhangat. Bahkan pada Juli 1955 dia mengadakan pertemuan puncak dengan Presiden AS Eisenhower di Jene-wa. Dan 4 tahun kemudian Khrushchev berkunjung ke Washington. Usaha damai itu berantakan pada 1960, ketika sebuah pesawat mata-mata AS berrandi U-2 ditembak jatuh di wilayah So-viet.

Pertemuan puncak Paris antara AS dan Soviet pun berantakan. Situasi lebih runyam lagi kala Soviet membalas “peng-khianatan” AS dengan membangun tem-bok Berlin pada 1961, dan menempatkan peluru-peluru kendali berkepala nuklir di Kuba pada 1962. Tapi krisis itu cepat mendingin gara-gara Khrushchev mau mengalah. Pada 1963, dia menandatangani Perjanjian Pelarangan Uji Coba Senjata Nuklir bersama AS dan Inggris bersedia memperlancar jalur tele-komunikasi dengan AS: bekerja sama de-ngan AS untuk tak menggunakan ruang angkasa sebagai pangkalan peluru kendali dan ngurangi ketegangan di Berlin. Usaha-usaha damai itu, dan kecaman–kecaman yang dilontarkan Khrushchev ter-hadap Stalin, membuat RRC menceraikan Soviet. Kebanyakan tokoh elite ternyata juga tak suka pada sikap kompromistis Khrushchev.

Apalagi perekonomian Soviet di bawah Khrushchev merosot terus. Paling parah terjadi pada 1963, ketika kemarau panjang menghancurkan pertanian di selu-ruh negeri. Saat itu Soviet sampai harus mengimpor 12 juta ton gandum. Demikian hebatnya tekanan politik yang dialami, pada Oktober 1964, Khrushchev mengundurkan diri dari kancah politik. Dia digantikan oleh Leonid Brezhnev, yang langsung menghidupkan kembali ja-batan sekretaris jenderal.

Untuk mengatasi kemerosotan ekonomi yang dihadapi, Brezhnev mengambil langkah-langkah baru. Para manajer pabrik diberi kebebasan lebih luas dalam menentukan jenis dan kuali-tas produksi. Pola tanggung jawab kabinet tahun 1957 pun dia hidupkan lagi. Yaitu setiap kementerian ber-tanggung jawab atas sebuah sektor ekonomi. Di zaman Brezhnev, laju peng-aruh Soviet memang tampak mence- ngangkan — dengan politik maupun senjata. Penindasan dengan tank a-tas gerakan demokratis di Cekoslo-vakia, misalnya, juga keterlibatan Soviet di Afghanistan, terjadi di zamannya. Pada 1975, gerilyawan dukungan Soviet berhasil mengusir AS dari Vietnam.

Dalam jangka waktu 5 tahun berikutnya, para pe-mberontak dukungan Soviet berhasil merebut kekuasaan di Nikaragua, Kamboja, Afghanistan, Yaman Se-latan, Mozambik, dan Angola. Brezhnev meninggal pada 10 No-vember 1982. Dan penggantinya a- gaknya orang-orang yang lebih meli-hat masalah Soviet dengan realistis. Yuri Andropov, bekas ketua KGB, ke-mudian Konstantin Chernenko, lalu Mi-khail Gorbachev, tergolong orang-orang moderat. Terutama tersebut terakhir, yang masih berada di kursi sekjen merangkap presiden, yang pembaruannya terus meng-gelinding jauh — dan bisa jadi mengubah komunisme Soviet menjadi sesuatu yang tak lagi berkaitan dengan Marxisme. Setelah perjalanan panjang, tampaknya Marxisme dan Leninisme, tak lagi klop dengan dunia. (Prag)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s